}

Perjalanan Cinta Untuk Sebuah Mimpi (Part 2)

Senin, 20 Januari 2014
Posted By : Wayne Rachmat

Perjalanan Cinta Untuk Sebuah Mimpi (Part 2)

Aku berjalan melalui koridor sekolah dengan fikiran yang melayang-layang jauh tak karuan. Jekvin lah yang membuatku jadi begini, aku sangat dibingungkan dengan semua ini. Aku benar-benar berfikir keras dan berusaha menemukan cara agar aku dapat diterima dengan baik di hadapan teman-teman baruku. Aku juga bingung, kelebihan apa yang bisa aku tunjukkan pada mereka semua. Sedangkan aku hanya bisa menari dan bermain musik tradisional saja. Dan aku kira itu sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka. Aku benar-benar pusing dengan semua ini.
“Apakah anda sedang memikirkan sesuatu yang berat?”
Tiba-tiba saja Dicky muncul dan membuyarkan segala fikiranku. Sekilas aku melihat wajah Dicky, hembbb, menurutku dia orang yang lumayan manis. Tapi sayang, dia bukan orang pertama yang ingin mendekatiku.
“Ya. Sesuatu yang sangat mengganggu fikiranku.” Aku selalu saja bersikap cuek kepada semua orang yang belum ku kenal, seperti Dicky.
“Mungkin kalau saya boleh tahu, saya akan membantu! Nama saya Dicky, dari kelas Musik!”
Dicky bersikap manis sekali padaku, tapi sayang sekali aku masih belum ingin mencari masalah yang lebih besar di sekolahan ini, karena kelihatannya Dicky adalah orang yang terkenal disini. Ketika aku melihat beberapa gulungan lirik lagu di tangannya, aku mencoba untuk meraihnya.
“Bukankah itu lirik lagu?” aku mencoba bertanya untuk mengalihkan pembicaraan Dicky.
“Ya benar. Ini adalah lagu yang akan kunyanyikan bersama teman bandku di pentas perayaan tahunan bulan depan!” Dicky menjawab pertanyaanku, yang seolah-olah dia tak ingin menutupi apapun dari ku. Namun aku juga mulai sedikit berfikir untuk memanfaatkan Dicky. Aku fikir dia orang yang hebat, dengan itu aku bisa dengan mudah membuktikan kelebihan yang aku punya melalui Dicky ke semua teman baruku. Aku mulai tersenyum, dan begitu senang bisa mendapatkan ide yang sebagus ini.
“Dic, bolehkah aku meminta bantuan mu! Walaupun kita belum kenal, tapi aku rasa kita cocok untuk berteman!” Kini aku benar-benar mengeluarkan sifat burukku ini. Tapi, aku begitu bingung, karena Dicky tetap saja setuju dan mau dengan apa yang aku inginkan padanya. Tapi setelah ku fikir-fikir Dicky adalah orang yang mempermudah rencanaku, jadi aku tidak perlu bingungkan itu lagi. Akhirnya aku bertukar nomor ponsel dengannya.
Teett.. Teett,
Setelah bel masuk berbunyi, kami pun berjalan bersama menuju kelas musik untuk berlatih persiapan perayaan bulan depan. Tapi aku sedikit merasa tidak nyaman, itu karena semua orang yang ada di kelas memandangku dengan sangat aneh, terutama Mery dan Jekvin. Tapi aku tetap pasang wajah cuek dan buru-buru duduk di tempatku. Aku merasa sangat tidak nyaman, karena Jekvin terus memandangku dengan aneh.
“Apa kamu merasa cemburu?” Aku terpaksa bertanya begitu agar mengalihkan pandangannya padaku.
“Dasar, aneh. Kamu kira aku akan mau lakuin apa yang ada di fikiranmu itu?” Dengan sombong Jekvin menanggapiku, aku begitu tidak nyaman dan penasaran bagaimana Jekvin bisa tahu semua rencana di fikiranku.
“Apa maksudmu?, Aku tidak mengerti.” Aku hanya bisa mengelak pertanyaan Jekvin yang memang benar adanya.
“Teruslah berpura-pura tidak tahu! Tapi aku hanya memperingatkan mu, karena aku akan lebih dulu mengenal semua teman di sini dibandingkan kamu! Dan ingatlah aku bukan orang yang mudah cemburu dan suka dengan cewek yang buruk rupa sepertimu!” Jekvin benar-benar membuatku marah dan jengkel, ingin sekali aku memukulnya sekeras-keras mungkin. Tapi, sayang sekali sutradara mengurungkan niatku itu. Karena tiba-tiba saja sutradara masuk kelas dan menyuruhku untuk ke depan. Aku sangat grogi, dan bingung dengan apa yang harus aku lakukan.
“Lee, saya percaya kamu adalah murid yang pandai. Dan sekarang tunjukkan kebisaanmu itu ke semua teman barumu!” Sutradara berkata dengan percaya padaku, namun aku begitu bingung dengan apa yang harus kulakukan. Apakah menari? Atau bermain musik tradisional? Huhh, semuanya benar-benar konyol. Aku tahu disini adalah sekolahan ternama di Jakarta, jadi aku fikir semua sudah pada modern. Tapi, aku hanya bisa menari dan bermain musik tradisional saja, menyanyi pun juga tak pernah.
Tanpa berfikir panjang lagi aku mengambil seruling dari tasku, dan aku mulai memainkanya sambil menari-nari kecil. Awalnya aku tidak yakin, tapi setelah melihat Dicky tersenyum dan percaya padaku, aku menjadi lebih berani. Dan aku sangat terkejut ketika permainanku berakhir, aku mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari teman-teman, walaupun Mery tidak terlihat senang sama sekali, aku tetap bangga dengan ini. Dan aku mulai berjalan kembali ke tempatku.
“Tidak menarik, aku pun juga dengan mudah memainkan itu! Dasar gadis payah!” Aku sangat terkejut mendengar Mery berkata demikian, tapi setelah aku ingat kata-kata Jekvin, aku hanya bisa membiarkannya saat ini.
“Okey, kalian semua boleh belajar mengekspresikan suara kalian masing-masing, dan saya akan kembali 1 jam lagi!” Sutradara berkata dan secepatnya meninggalkan kelas.
Cantik, seksy, lembut, dan putih, itulah kak Dinda. Dia adalah guru tari di sekolahan ini. Tak heran banyak sekali orang yang menginginkannya. Banyak pula murid-murid perempuan yang iri dengannya.
“Apa yang perlu kita bahas hari ini?” Sutradara bertanya kepada Kak Dinda dengan nada tanpa basa-basi. Memang sejak awal hubungan Sutradara dengan Kak Dinda sedikit tidak baik. Jadi, tak heran apabila sutradara sering bersikap kasar pada Kak Dinda. Namun, entah kenapa Kak Dinda tak pernah sedikit pun membenci Sutradara.
“Aku hanya ingin berniat menambahkan murid baru kita ke dalam Perayaan bulan depan ini! Apa kamu setuju dengan pendapatku ini?”
“Tentu, besok akan ku adakan seleksi untuk mencari peran utama dalam perayaan bulan depan!” Setelah Sutradara menjawab, dia langsung pergi dan berjalan keluar untuk kembali ke kelas musik. Namun bel untuk pulang berbunyi, sehingga itu membatalkan niat Sutradara untuk kembali ke kelas.
Aku melihat Sutradara berjalan sendiri di jalan depan sekolah, dan aku mulai mencoba berlari mendekatinya. Dan sepertinya sutradara terkejut ketika melihatku yang tiba-tiba saja berada di sampingnya.
“Apakah Sutradara sedang melamun?” Aku bertanya dengan sopan padanya, tapi apa yang kudapat tak sebanding dengan yang ku lakukan. Sutradara malah mengacak-acak rambutku. Ini adalah hal yang paling wanita benci, apa sutradara ini mengira aku masih anak-anak apa? Dasar sutradara menyebalkan.
“Ya, aku melamunkan mu! Aku kagum kau sangat hebat memainkan alat musik tadi!” Sutradara membuatku benar-benar terkejut. Sejak awal aku senang dengan sikap sutradara, tapi terkadang sikapnya juga aneh dan membingungkan.
06.00 WIB
Kriiinnnggg…
Inilah kebiasaan burukku, bangun harus dengan menggunakan alarm. Terkadang karena malasnya aku, sampai-sampai Kakek yang membangunkanku. Setiap pagi Kakeklah yang memasak untuk sarapanku. Karena sudah lama Kakek hidup mandiri tanpa Nenek ku, itu karena Nenek sudah lama meninggal.
“Leetaaa… cepat sarapan!! kakek membuatkan roti bakar kesukaanmu!”
“iya Kek, Leeta hampir selesai”
Itulah kakek, yang selalu memanjakanku. Setelah siap semua, aku turun untuk sarapan, tapi karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.45, terpaksa aku lakukan kegiatan buruk yang sering ku lakukan di Bali dulu.
Aku mulai duduk di meja makan, setelah beberapa kali berfikir, lalu dengan cepat aku mengambil satu roti bakar dan lari keluar untuk berangkat sekolah. Aku hanya bisa teburu-buru dengan memakan satu roti di tangan kananku dan membawa buku-buku di tangan kiri ku. Aku berlari sekilat mungkin agar tidak mendapatkan hukuman dari kakek pagi ini.
Brakkk…
Aku begitu terkejut, karena sisa rotiku yang masih belum habis kumakan jatuh bersama lembaran-lembaran kertas dan buku yang ku pegang, itu karena aku bertabrakan dengan seseorang setelah berhasil keluar dari gerbang depan rumah. Aku begitu marah melihat buku-buku ku yang berantakan. Tetapi, aku lebih terkejut lagi, karena orang yang menabrakku adalah Jekvin.
“Hey, aku ingin kau bereskan semua buku ku yang berantakan karena mu ini!”
“Aku? Karena ku? Jelas-jelas kamu yang menabrakku! Kenapa kau jadi menyalahkanku?”
“Tapi kenapa kamu berada di sini? Hemb… Jangan-jangan kamu mengikutiku ya?”
“Mengikutimu? Nggak berguna banget tau!”
“Terus kenapa kamu disini?” Jekvin tidak menjawab pertanyaan terakhirku, tapi dia hanya menunjuk ke arah rumah di ujung jalan depan rumah kakekku. Aku sedikit bingung, tapi setelah ku fikir aku beranggapan bahwa itu rumah Jekvin.
Selama berminggu-minggu masuk sekolah, aku tidak pernah mendapatkan setitik pun pengalaman yang mengesankan. Dan aku masih sangat terpukul, karena kejadian 2 hari yang lalu. Dicky yang baru saja aku kenal, orang yang baik, dan orang yang pernah berarti di hatiku hari-hari ini, meninggal. Dia pergi begitu saja tanpa aku tau kalau dia sakit, sakit yang membuatnya begitu cepat pergi meninggalkan kami semua. Aku menyesal karena belum pernah membuatnya benar-benar bahagia karena ku. Tapi, semua sudah berlalu. Dan mulai saat ini, aku akan terus berusaha keras untuk Dicky.
Pesta perayaan pun juga semakin dekat di mata. Tapi, aku masih saja bingung akan menampilkan apa. Sebenarnya ingin sekali aku bisa bernyanyi dan menari tari modern, tapi aku juga tau, itu akan sulit. Karena kakek selalu melarangku. Tapi, entah kenapa akhir-akhir ini, Jekvin selalu dekat dengan ku. Aku merasa dia adalah pengganti Dicky. Aku kira Jekvin adalah orang yang menyebalkan. Tapi, ternyata aku salah, dia adalah orang yang sangat menyenangkan. Bahkan dia bisa bermain gitar dan bernyanyi lebih baik dari pada Dicky. Pagi, Siang, bahkan malam saat latihan tambahan di sekolah aku selalu belajar bernyanyi dengannya. Begitu menyenangkan.
1 minggu sebelum pesta perayaan aku sempat melihat Mery di ruang tari. Aku lihat dia berlatih dengan keras di sana. “Sempurna”. hanya kata ini yang bisa ku ucapkan ketika aku melihat gerakan tari Mery yang enerjik. Rasanya ingin sekali aku menjadi Mery, tapi sayang aku bukan orang yang sepandai dia. Aku merasa itu hanyalah mimpi bagiku. Tapi, tiba-tiba saja Sutradara melihatku yang sedang mengintip Mery berlatih menari.
“Apa kamu ingin sepertinya?”
“Ya, tapi sayang, aku bukan orang yang sehebat itu!” aku sangat menyesal melihat diriku yang tak sebanding apa-apa dengan Mery. Tapi, sutradara berkata lain, dia bilang, aku adalah gadis yang kreatif. Dan bahkan dia menawariku untuk ikut audisi pemilihan pemeran utama besok. Dan sutradara mengajakku bertemu dengan Kak Dinda. Di sana Kak Dinda mengajari ku gerakan-gerakan dasar dari tari modern. Aku sangat tersiksa, karena harus melenturkan kaki, tangan dan badanku denggan gerakan split ke atas dan ke bawah. Tetesan-tetesan keringat pun membasahi badan ku dengan waktu singkat. Tapi, semua tidak sia-sia. Aku sudah mulai bisa menari dengan baik, walaupun tidak sempurna. Karena aku sudah merasa lelah, aku berniat untuk mengakhiri latihan. Tapi, ketika aku keluar dari ruangan, aku sangat terkejut melihat Jekvin ada di situ. Aku tidak ingin Jekvin melihatku, dan aku buru-buru bersembunyi.
Aku sangat terkejut ketika melihat Kak Dinda keluar, dan Jekvin memeluk kak Dinda. Entah kenapa air mata ini tak tertahankan lagi. Aku tak tau kenapa perasaan ini begitu sakit melihatnya. Dan aku melihat Jekvin memberikan leontin pada Kak Dinda. Aku begitu tak kuat ketika melihat Jekvin memasangkan leontin itu, dan aku berlari karena tak tahan lagi melihatnya. Aku bingung dengan hubungan Kak Dinda dengan Jekvin. Tapi, aku juga bingung dengan sikap sutradara pada ku.
07.00 WIB
“Saya ingin kamu pergi dari kehidupan saya. Karena saya tidak mau bermain-main dengan anak kecil sepertimu!” Kak Dinda begitu marah kepada Jekvin, dan dia juga mengembalikan liontin yang kemarin malam Jekvin berikan.
“Apa salah dengan diri saya ini? Apa karena saya kalah dewasa dengan Sutradara? Perlu anda tahu, saya benar-benar tulus mencintai anda!” sepertinya Jekvin memang sangat mencintai gadis yang jauh di atas umurnya itu. Tapi Kak Dinda tetap menolak, dan menyuruh Jek untuk meninggalkan ruangannya dan melupakan semua tentang Kak Din.
Aku melihat wajah Jek yang murung di depan ruang Kak Din. Dan aku mulai mendekati dan bertanya padanya. “Apa yang kamu lakukan di sini Jek?”
“Semua bukan menjadi urusanmu!” Jek, pergi dan meninggalkanku tanpa memandang ataupun menolehku. Aku begitu kecewa dengan sikap Jek, dan aku yakin ini terjadi karena Kak Din. Tak lama dari itu, aku melihat Sutradara masuk ruangan Kak Din. Aku juga binggung kenapa tiba-tiba aku berniat mendengarkan pembicaraan mereka. Dan aku begitu terkejut ketika mendengar ternyata Kak Din suka dan cinta pada sutradara, tapi sutradara membuat kak Din sedikit kecewa, dan itu karena aku. Kak Din cemburu padaku, karena memang sutradara sangat dekat denganku. Aku bingung, Jek mencintai Kak Din, Kak Din mencintai Sutradara, dan Sutradara dekat dengan ku, dan aku mulai sayang dengan Jek.
Kenyataan itu terus-menerus membayangiku. Tapi, aku tidak mau semua itu menghancurkan mimpi ku. Aku memutuskan untuk mendekati Jek dan menghiburnya. Tapi itu sulit, setiap kali aku mencoba berbagi dengan Jek tapi Jek selalu mencoba menolak dan menjauhiku. Tapi, inilah aku. Seseorang yang tak pernah menyerah. Setiap pagi aku selalu membelikannya capucino kesukaannya, berlatih bersamanya dan bahkan bernyanyi untuknya.
Audisi pemeran utama pun tiba. Dan aku benar-benar bingung akan bernyanyi apa. Tapi setelah aku fikir, bernyanyi apapun asalkan dengan hati akan menghasilkan kepuasan. Dan aku sudah menyembunyikan ini semua dari Kakekku. Karena, aku ingin sekali tampil di atas panggung. Meskipun begitu, aku tetap menghormati kakekku dengan tetap bermain seruling dan menari tari tradisional seperti yang Kakek inginkan.
Di hari audisi, kakek mengajakku untuk lomba bermain seruling, tapi aku sangat binggung harus memilih apa? Sedangkan Kakek terus menerus membuntutiku. Aku tak bisa kabur darinya. Waktu audisi pun semakin dekat tapi acara perlombaan belum di mulai, aku mulai gelisah. Tapi, aku sangat terkejut ketika melihat Jek memanggilku dari luar gedung perlombaan. Dan aku langsung berlari padanya.
“Apa yang kamu lakukan di sini Jek?” dengan senangnya aku melihat Jek yang mulai peduli padaku.
“Aku menjemputmu untuk ikut audisi itu! Karena aku yakin kamu bisa!” Jek meyakinkanku dengan hati yang tulus, tapi aku juga tidak mau mengecewakan Kakekku.
“Ayo cepat naik! Sebelum kamu terlambat dan di diskualifikasi!” Karena aku yang terlalu semangat aku berlari ke arah Jek. Tapi, aku malah terjatuh dan Jek menolongku. Hingga kami terjatuh berdua dan tangan kiri Jek terkilir. Tapi, aku tak tahu itu terjadi pada Jek, karena dia tidak menunjukkan sakit sedikit pun pada ku. Dan kami pun bersepeda menuju gedung audisi di sekolah. Di sana sutradara sudah menungguku lama, dan aku di suruh untuk langsung tampil dan bernyanyi.
Aku bernyanyi dengan memikirkan semua hal yang sudah terjadi padaku. Dicky, Jekvin, Ayah, dan bahkan kakekku. Dan tanpa aku sadari aku menangis, setelah lagu berakhir aku mendapatkan tepukan yang sangat meriah. Dan teman-teman mulai berlari ke depan dan memelukku. Aku senang bisa bernyanyi sehebat ini. Dan aku juga senang ketika melihat Jek tersenyum padaku.
Cerpen Karangan: Fryska Ayu Winanthi
Facebook: Fryska Ayu

0 komentar:

Posting Komentar

 
 
 
free counters

Follower

Gunadarma