}
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Please Come Back, Best Friend!

Senin, 20 Januari 2014
Posted By : Wayne Rachmat

Please Come Back, Best Friend!

siapa coba yang gak sedih kalau di tinggal sahabatnya pergi untuk selamanya. Ya itulah nasib ku di tinggal oleh sahabat ku yang paling baik, dia adalah Carla. Kita langsung saja ke cerita gimana dia bisa ninggalin aku untuk selamanya.
“Grace” ada seseorang yang memanggilku dari belakang, yap dia adalah Carla. “What’s wrong Carla” balas ku. “Gak ada apa-apa kok Grace” kata Carla dengan senyum nya. “Aku kira ada apaan” balas ku. “Hehehe cuma mastiin aja kamu masih ada di sisi ku” kata Carla yang membuat aku bingung. “Maksud kamu ngomong gitu apaan Carla, jangan bilang kamu mau ninggalin aku untuk selamanya” ucapku. “Gak kok aku cuma gak kepengen kamu ngelupain aku karena kamu kan banyak temen dan lebih baik dari aku hehehehe” kata Carla yang meledek aku. “Kamu bikin aku khawatir aja ah kamu lebay banget sih tenang aja aku gak ngelupain kamu kok” balasku. Dan akhirnya kami pun memasuki kelas kami dengan canda dan tawa.
Hari demi hari, ada yang membuat aku bingung kenapa Carla jarang masuk dan akhir-akhir ini wajah Carla agak pucat. “Hey Carla, kenapa kamu jarang masuk dan wajahmu terlihat pucat” kataku. “Ya pasti dia itu bolos sekolah dan main sama orang-orang gak jelas” terdengar suara musuh kami yaitu Selena. “Heh loe belagu banget sih jadi orang itu, kalau loe iri sama kita berdua bilang aja napa” kataku dengan jutek nya. “What iri sama lo berdua, Ogah banget gua” jawab Selena dengan membentak. “Ya udah kalau loe gak iri pergi loe jauh-jauh dari hadapan kita berdua” kesal ku dengan membalas dengan membentak. “Oke kita bakal pergi ngapain juga gua deket-deket sama orang gak level kayak loe berdua” kata Selena mengejek. “Loe kurang ajar banget sih Selena…” Belum selesai bicara dan ingin menamparnya Carla sudah menahan ku untuk melakukannya dan langsung mengajak ku pergi.
Sudah 2 minggu ini aku tidak sama sekali melihat Carla aku jadi khawatir dengan keadaannya. Hingga suatu hari ada kabar yang membuat hatiku terpukul dan terus menangis.
“Grace kamu harus sabar menghadapi cobaan ini ya…” Kata mamah Carla.
“What’s wrong with Carla aunt, please tell me” kata ku dengan penuh dengan rasa yang campur aduk.
“Carla sayang, Carla sudah meninggal dia diculik dan jasadnya baru saja ditemukan di suatu gudang usang sayang” kata mama Carla dengan sedih.
“Apa tante Carla udah meninggal? Tante pasti bohong iya kan? Iya kan tante gak mungkin Carla meninggalkan aku untuk selamanya” ucapku yang sudah tidak kuat mendengarnya.
“Carla menuliskan surat yang di temukan polisi di samping jasad Carla” kata mama Carla.
Aku pun pergi dan memulai membaca surat yang banyak dengan bercak darah.
Hai Grace makasih ya udah jadi sahabat aku selama aku hidup
Mungkin kalau kamu baca surat ini mungkin aku udah pergi meninggalkan ku untuk selamanya
Oh iya maaf ya Grace sebenernya aku itu punya penyakit Liver maaf ya aku gak kasih tau kamu tentang itu karena aku gak mau bikin kamu kecewa
Aku nulis surat ini dengan keadaan ku yang udah gak mungkin lagi selamat tapi aku masih bisa nulis hebat kan aku
Kalau kamu baca surat ini jangan nangis ya karena aku gak mau kamu nangis anggap aja aku ada di depan kamu.
Aku pun terus menangis karena tak kuat membaca surat itu dan selesai membaca surat itu aku berkata “Seandainya aku bisa memutar waktu aku pengen deket kamu terus, Please come back, my best friends”
Dan begitulah walaupun dia udah pergi aku tetep gak bisa melupakan dia karena di sahabat terbaik ku
~ THE END ~
Cerpen Karangan: Areta Nurochmah Nugraha
Facebook: Areta Nurohmah Nugraha
READ MORE - Please Come Back, Best Friend!

Bolehkah Aku Membenci Ayah?

Senin, 20 Januari 2014
Posted By : Wayne Rachmat

Bolehkah Aku Membenci Ayah?

Orangtua merupakan tumpuan bagi setiap anak, memiliki orangtua yang lengkap adalah keinginan setiap anak di muka bumi ini, tak terkecuali dengan ku. Namun, takdir berkata lain bagiku. Lah Peristiwa 16 tahun yang silam telah merubah kehidupan menjadi sosok anak yang tumbuh tanpa peranan seorang Ayah. Memang semua terbayang sangatlah berat namun kini telah ku lalui semua hingga aku tumbuh menjadi seorang remaja yang kuat dan tegar dalam menghadapi persoalan hidup. Tanpa kehadiran sosok ayah yang mendampingi ku tentu ada sosok lain yang menggantikannya tidak lain dan tidak bukan adalah ibu. Ibu bagi ku adalah sosok luar biasa yang memiliki peran ganda oleh keadaan, ia menjadi sosok ibu yang penuh kasih sayang dalam merawat anaknya hingga menjadi sosok perkasa mencari nafkah untuk membiayai kehidupan kedua anaknya.
Mengingat kembali memori 16 tahun yang lalu saat kisah getir itu terjadi pada diriku dan keluargaku sudah tentu berdampak pada psikologis ku. Sering terlintas di bayang ku saat pertengkaran itu, hal ini sering membuat ku seperti orang bodoh yang kehilangan akal sehat namun berkat orang-orang yang berada di samping ku membuat ku tegar dan kuat. Memang aku tak pernah kekurangan kasih sayang karena ibu telah memberikan sayang yang lebih kepada ku namun tak bisa dipungkiri kehadiran sosok ayah sangat ku rindukan.
Pernah suatu ketika disaat aku masih berada di bangku SD aku mengalami pergejolakan yang begitu dahsyat, aku tidak tahu apa dan siapa itu sosok ayah sehingga membuat aku bertanya dan terus bertanya. Hal ini berawal ketika masih kelas 1 SD yang setiap harinya sering bernyanyi bersama saat hendak pulang sekolah dan disaat itu yang dinyanyikan adalah lagu yang sangat identik dengan anak-anak, karena sangat senang aku pun ikut bernyanyi bersama-sama.
“satu-satu aku sayang ibu, dua-dua aku sayang ayah, tiga-tiga sayang adik kakak, satu dua tiga sayang semuanya”
Nah, yang mengganjal di benak ku siapakah sosok ayah yang ada pada lirik lagu ini.
Sesampainya di rumah sambil mengerjakan PR yang didampingi ibu aku bertanya padanya.
“bu, teman ku roni setiap hari diantar jemput ayahnya sekolah, aku kok enggak bu?, ayah ku mana bu? Kok aku gak pernah jumpa ayah” Tanya ku polos.
“ayah kamu lagi kerja nak” jawab ibu sambil meneteskan air matanya.
“kok gak pulang-pulang sih bu? Terus ibu kok menangis” Tanya ku kembali
“ayah kamu lama pulang sayang, mungkin dia lagi sibuk. Kamu jangan Tanya-tanya ayah lagi” jawab ibu.
“ia bu, tapi ibu jangan nangis lagi ya” ujar ku. Ibu hanya tersenyum menjawab perkataan ku sembari menghapus air matanya.
Sejak saat itu tidak pernah menanyakan ayah lagi kepada ibu karena aku takut ibu menangis lagi. Namun semua pertanyaan ku terjawab sudah setelah aku beranikan diri bertanya kepada pamanku dimana ayah, sejak saat itu aku tahu semua tentang ayah dan aku sangat kecewa kepada ayah, hingga peristiwa itu terjadi, saat aku kelas 3 SD nenek ku meninggal dunia dan disitulah untuk yang pertama kalinya aku bertemu dengan sosok yang sering disebut ayah tersebut, namun tidak tahu kenapa aku tidak memiliki rasa apapun kepada ayah yang ada malah rasa marah ku kepada ayah yang telah menelantarkan kami.
Kebencian ku kepada ayah makin menjadi disaat ibu harus menjadi TKW di Negeri tetangga, semua dilakukan ibu semata-mata untuk menghidupi kami anak-anaknya, disini aku mulai mengerti betapa perjuangan seorang ibu yang sangat luar biasa, namun dimana sosok yang harusnya bertanggung jawab akan nafkah keluarga tersebut? semua hanya omong kosong belaka. Kepergian ibu menjadi TKW mengharuskan kami tinggal bersama tante dan nenek, mereka sangat menyayangi kami karena semenjak perceraian ayah dan ibu mereka turut serta merawat ku dan adikku, walaupun kasih sayang yang diberikan tante dan nenek sangat besar dan tidak membuat kami kekurangan kasih sayang namun tentu saja aku sangat sedih harus berpisah dengan ibu terlebih adikku yang masih kecil dan masih sangat membutuhkan perhatian lebih dari ibu namun kini ia harus berpisah dari ibu, hal ini tentu saja membuat kebencianku terhadap ayah tumbuh dengan subur.
Rasa kebencianku terhadap ayah pun semakin terpupuk disaat aku menginjak bangku SMA karena disini aku merasa begitu besar perjuangan seorang ibu untuk menyekolahkan anaknya setinggi mungkin, walau keadaan ekonomi sangatlah memprihatinkan. Biaya sekolah yang mahal ditambah dengan harga buku pegangan yang selangit membuatku hampir putus asa untuk melanjutkan sekolah. Namun semangat dan kemauan membuat ku bertahan melihat besarnya perjuangan ibu, betapa kecewanya ia jika aku putus sekolah. Lagi-dan lagi hal ini membuat ku makin membenci ayah di balik perjuangan ibu yang begitu besar kemana sosok ayah tersebut? Namun, keadaan ini memotivasi diriku agar aku belajar segiat mungkin untuk membahagiakan ibu dan membuat perjuangannya selama ini tidak sia-sia.
Kini aku telah beranjak dewasa dan tetesan keringat ibu ku telah terjawab semua, berkat perjuangannya yang selalu menjadi motivasi bagiku telah membawa ku meraih beasiswa untuk duduk di bangku perguruan tinggi negeri ternama di kota Medan ini. Semua ini kupersembahkan sebagai ucapan terimakasih ku kepada ibu yang telah membesarkan ku dan telah memberikan yang terbaik kepada ku. Dan aku berjanji kelak jika aku telah selesai dari pendidikan ku, aku akan bekerja dan membahagikan ibu ku yang telah berjuang untuk ku. Masalah ayahku kini meninggalkan pertanyan besar di benakku “boleh kah aku membenci ayah?”. Namun semua itu hanyalah penggalan masa lalu yang harus ku simpan baik-baik.
Cerpen Karangan: Abdul Rahman Sinaga
READ MORE - Bolehkah Aku Membenci Ayah?

Perjalanan Cinta Untuk Sebuah Mimpi (Part 3)

Senin, 20 Januari 2014
Posted By : Wayne Rachmat

Perjalanan Cinta Untuk Sebuah Mimpi (Part 3)

Aku cepat-cepat keluar dan menemui Jek. Walaupun aku kalah dari Mery, tapi aku tetap bangga bisa bernyanyi sebagus itu. Aku melihat Jek memegangi pergelangan tangan kirinya. Dan aku berusaha mendekatinya, tapi, dia malah memelukku. Dan aku bingung harus berkata aoa padanya. Karena aku sangat gugup.
“Ta, Aku sayang sama kamu!” Aku sangat terkejut ketika Jekvin bilang dia sayang aku. Tapi aku juga tidak mau terlalu lama membohongi perasaanku, dan aku juga berkata sama padanya “Aku juga sayang kamu Jek!”
Entah kenapa mulai saat itu kami berpacaran. Banyak hal yang mrenyenangkan kami alami. Dan aku juga terkejut ketika melihat foto ku dulu di bandara ketika pertama kali bertemu dengan Jek. Ternyata begitu panjang jalan yang sudah ku jalani hingga bertemu Jek kembali.
—
Dalam hitungan jam pesta perayaan akan di mulai. Tapi karena Mery jatuh sakit dan harus segera di operasi, karena pita suaranya bermasalah, akhirnya aku yang menggantikannya. Tapi aku fikir Mery sudah berjuang begitu panjang untuk dapat bernari dengan baik. Akhirnya aku berniat untuk membuatnya bisa tampil sebagai peran utama.
Dalam setiap babak pesta itu, aku tidak pernah muncul. Kakek ku mulai kecewa, karena aku tidak tampil. Dan aku lihat ibu Mery yang dengan bangga melihat Mery tampil di atas panggung. Sutradara mulai bimbang, karena pada babak terakhir pemeran utama akan bernyanyi, padahal Mery tidak bisa bicara karena pita suaranya.
Babak itu pun tiba, Mery tetap di atas panggung dan aku di belakang panggung bernyanyi. Jadi ini semacam lypsing. Semua orang terkejut dan bangga mendengar suara itu. Terutama pada wajah Jek. Perayaan pun berakhir dengan baik. Hubungan ku dengan Mery pun juga membaik. Aku bangga dengan apa yang terjadi hari itu, meskipun aku sedikit menyesal karena tidak tampil di panggung yang aku inginkan, tapi aku tetap bahagia bisa membuat Mery tampil dan menari sebagus yang ibunya inginkan. Membuat orang lain bahagia adalah hal yang paling indah dari pada membuatnya terpuruk sendiri.
Sutradara sangat bangga dengan apa yang sudah terlaksana pada pesta perayaan itu. Dan kami semua mengadakan pesta untuk kesuksesan bersama. Semua orang terlihat senang, begitupun aku. Tapi, aku merasa ada yang kurang dari semuanya. Dan ternyata itu Jekvin, aku tidak sama sekali melihat Jekvin ada di sana. Aku mencoba mencari-cari Jek di antara banyak orang di sana. Tapi hasilnya tidak ada. Dan aku memutuskan untuk keluar dari gedung itu, untuk mencari Jek. Karena aku ingin Jek menjadi orang pertama yang melihatku tersenyum bahagia.
Ketika aku berjalan keluar, aku melihat Jek duduk di kursi taman depan gedung kesenian sekolah. Aku lihat dia memijat-mijat pergelangan tangan kirinya. Dan aku mencoba mengingat apa yang membuat tangan Jek menjadi sakit. Aku jadi merasa bersalah, tapi Jek selalu mengelak bahwa tangannya sakit karena ku. Dan aku mulai berjalan mendekatinya dan duduk di sampingnya.
“Apa itu membuatmu menjadi sakit?”
“Aku tidak sakit, tapi aku bahagia melihatmu menjadi orang yang sekuat itu!”
Aku mulai ingin menangis, mendengar Jek yang begitu baik menyembunyikan rasa sakit tangannya yang sebenarnya karenaku.
“Menangislah jika ada aku di sampingmu! Tapi jangan menangis apabila tidak ada aku di dekatmu!” Jek berkata dan memelukku, dan aku mulai menangis karena sikap Jek yang begitu mengerti bagaimana perasaanku saat itu.
—
“Temen-temen, nanti kita lihat konser FIVE BOY kan?”
Lagi–lagi Ayu yang suka gosip selalu saja tahu apa yang akan terlaksana di sekolahan. Sampai-sampai teman-temannya bosan mendengar Ayu bicara. Tapi untuk kali ini, semua teman-temannya semangat mendengarkan. Itu karena Jekvin si cowok populer baru-baru ini di sekolah akan tampil dan bernyanyi bersama teman-teman Bandnya di kelas musik. Jekvin menggantikan Dicky di mata semua orang, dan itu termasuk diriku.
“Okeyyy.. jam berapa kita berangkat?” Kali ini Sinta menanggapi Ayu dengan semangat, begitu pula dengan teman-teman lainnya.
“Aku akan tunggu kalian semua di depan gerbang sekolah tepat jam 19.00! gimana? Setuju gak?”
“Siiippp… sampai nanti ya! Aku mau pulang duluan!” Sinta menjawab dan secepatnya berlalu dari Ayu, begitu pula teman Ayu lainnya.
Tak sengaja aku lihat Ayu yang sedang berjalan sendiri di jalanan depan sekolah. Ingin sekali aku sedikit menghiburnya dan melihatnya tersenyum.
“Hai Ayu? Apakah sedang berjalan sendiri?”
“Ya, semua teman-teman sudah pulang tadi!”
“Apa kamu tidak ingin mengajakku melihat konser Five Boy?”
“Tentu tidak, karena aku akan kalah saing denganmu apabila nanti aku bertemu dengan Jekvin!”
“Ayu.. Ayu.. kamu memang gadis yang lucu!” Aku senang melihat Ayu yang bersemangat seperti itu. Dan aku selalu berharap dia akan tetap jadi Ayu yang periang.
—
Konser Five Boy akan dimulai beberapa menit lagi, tapi aku tidak melihat Jek sama sekali. Aku menelfonnya tapi dia tidak menjawabnya. Aku mulai kawatir dengan keadaan Jek. Tapi, semua itu cepat sekali terobati, karena ketika konser dimulai Jek muncul dan bernyanyi dengan sempurna. Permainan gitarnya pun juga sangat luar biasa. Tapi tiba-tiba sesuatu terjadi pada Jek. Jek berhenti memainkan gitarnya dan dengan kesakitan memegang lengan tangan kirinya. Aku kembali khawatir, dan aku ingin sekali membawa Jek untuk memeriksakan tangannya. Tapi Jek hanya tersenyum dan tidak pernah mengakui apa yang sebenarnya terjadi pada tangan kirinya. Jek tetap melanjutkan konser dengan baik, tapi aku tetap merasa kawatir dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Jek.
Konser pun berakhir, dan aku masih bingung dengan apa yang terjadi pada Jek. Lama aku menunggu Jek di bawah tempat konser, tapi Jek belum juga muncul. Padahal aku ingin sekali menunjukkan sesuatu padanya. Aku mulai melamun memikirkan kejadian yang Jek alami bersamaku. Dan tanpa aku sadari Jek sudah datang dan duduk di sebelahku.
“Apa kamu sudah lama menungguku di sini?” Jek membuyarkan lamunanku, dan membuatku terkejut.
“Tidak juga.” Kemudian aku memberikan selembar kertas padanya.
Jek membuka dan membaca apa yang ada pada kertas itu. Dan dia tersenyum.
“Kau hebat Lee! Pergilah dan buktikan kesuksesanmu itu padaku!”
“Benarkah kau senang dengan ini?”
“Ya, itu tentu!”
Aku sangat senang melihat Jek yang begitu baik mengijinkanku untuk pergi bersekolah ke Amerika. Aku sebenarnya juga tidak percaya bisa mendapatkan beasiswa untuk sekolah di sana. Tapi, aku akan tetap berusaha menjadi yang terbaik untuk orang-orang yang menyayangiku. Karena ini adalah mimpiku.
—
“Apa ini sudah terlalu parah?”
“Ya, sendi pada pergelangan tangan mu sudah mulai mati rasa! Dan satu-satunya jalan untuk membuatnya kembali adalah operasi!”
“Apakah setelah operasi tanganku akan kembali sembuh seperti semula?”
“Itu akan sedikit sulit! Meskipun bisa, tapi tak sesempurna sebelumnya!”
“Beri aku waktu 1 minggu lagi untuk menjalani operasi!”
“Tapi, saran dari saya. Hasilnya akan lebih baik apabila anda menjalani operasi secepatnya!”
“Tapi, saya masih mempunyai urusan lain yang lebih penting dari ini!”
“Iya, saya mengerti. Dan itu keputusan anda!”
Jek memeriksakan tangannya di rumah sakit, tapi dia memilih mengoperasinya nanti setelah aku berangkat ke Amerika. Jek sangat bingung dan kecewa karena nantinya dia tidak akan bisa memainkan gitar semahir dahulu. Tapi, di sisi lain, dia juga tidak ingin membuatku membatalkan pergi ke Amerika hanya karena tangannya yang sakit. Jekvin menanggung beban yang begitu berat, tapi dia tak pernah mau membaginya denganku. Dengan Papanya saja juga tidak pernah. Itu karena Jekvin masih menyimpan sisa dendamnya dahulu kepada ayahnya.
—
Dua hari lagi aku berangkat ke Amerika. Tapi, rasanya sungguh berat meninggalkan Jekvin sendiri di Jakarta, meskipun itu hanya satu tahun saja. Dan hari-hari ini aku juga jarang melihat Jekvin tampil konser lagi setelah konser itu. Aku selalu berharap agar tidak terjadi apapun pada Jekvin.
Jekvin Call..
“Iya Jek, ada apa?”
“Aku ingin bertemu kamu di taman depan gedung musik!”
“Iya, tunggu aku di situ! 5 menit lagi aku akan berada disitu!”
End Call…
Aku penasaran kenapa Jekvin menelfonku seserius ini. Aku hanya bisa berjalan terburu-buru menuju taman. Dan di taman aku hanya bisa melihat Jekvin seorang disana. Aku berlari dan duduk di sebelahnya. Tapi aku kembali khawatir ketika melihat pergelangan tangan jekvin di balut perban. Dan aku mengingat-ingat kata sutradara saat aku berpapasan dengannya kemarin siang.
“Pergelangan tangan Jekvin harus di operasi secepatnya, tapi dia tidak ingin melakukannya sebelum kamu berangkat ke Amerika!” Aku sangat kecewa pada diriku sendiri ketika mengingat kata-kata sutradara. Dan aku juga sangat kecewa pada Jekvin karena tak mau jujur kepadaku.
“Jek, aku sudah tahu semua yang terjadi padamu! Dan semua itu karenaku.”
“Itu semua bukan salahmu!”
“Ayo kita pergi ke Rumah Sakit dan segera mengoperasikan tanganmu! Aku akan membatalkan pergi ke Amerika.”
Aku meraih tangan Jek untuk berjalan pergi menuju Rumah Sakit. Tapi, dia melepaskan tanganku.
“Biarkan aku sendiri! Aku ingin kita berakhir.” Jek pergi berjalan menjauhiku setelah berkata dia ingin semua berakhir. Aku begitu kecewa padanya. Tapi, memang semua salahku, dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk Jek. Aku mulai merenung, dengan apa yang harus kulakukan saat ini. Padahal besok pagi aku harus berangkat ke Amerika.
Dan aku memutuskan untuk meminta pertimbangan pada Sutradara. Sutradara sangat mengerti dengan apa yang saat ini harus aku lakukan, dan aku yakin itu yang terbaik. Sutradara bilang, bahwa aku tetap harus berangkat ke Amerika, karena Sutradara yakin tidak akan terjadi apapun pada Jekvin. Aku sangat menghargai pendapat sutradara dan aku juga berfikir demikian.
—
Pagi pun datang, hari yang membawaku ke dalam mimpiku. Aku hanya menunggu mobil yang akan menjemputku, dan berangkat ke Amerika. Aku sangat yakin bahwa nantinya tidak akan terjadi apapun pada Jek. Dan aku juga selalu berharap setelah aku kembali dari Amerika bisa kembali bersama Jek. Aku sangat menginginkan itu semua.
AMERIKA
Inilah Negara yang saat ini aku tempati untuk meraih mimpi-mimpiku. Bernyanyi dan menari, itulah kegiatanku setiap hari. Banyak guru-guru yang luar biasa disini. Tapi, semua itu tak seluarbiasa Sutradara dan Kak Dinda. Karena bagiku, mereka tetap menjadi yang pertama.
Berhari-hari, berminggu-minggu, telah aku lewati disini. Aku bangga bisa menjadi penyanyi dan penari yang profosional. Ini karena tekat dan usahaku sendiri. Setiap hari pun aku selalu berlatih dan berlatih, tak pernah berhenti sedikitpun.
Satu tahun sudah berlalu dengan sempurna. Banyak orang yang ingin menjalani kontrak kerja denganku. Tapi aku masih menolaknya, karena aku masih ingin kembali ke Jakarta untuk bertemu orang-orang yang aku sayang. Aku sengaja tidak menghubungi Kakek ataupun Ayahku kalau aku akan pulang hari ini, karena aku ingin memberikan surprise pada mereka. Sama seperti dulu ketika aku berangkat dari Jakarta, aku hanya menunggu mobil untuk mengantarku kembali ke tempat asalku.
Perjalanan yang sangat panjang aku lalui saat ini. Tapi, tidak lama setelah aku merasa bosan, aku sampai Jakarta. Aku sangat rindu akan gedung-grdung yang ada di Jakarta. Tapi, semua rindu itu kini terobati. Setelahnya aku sampai di depan rumahku, aku sedikit curiga, karena sepi sekali.
Tok.. Tok.. Tok
Berulang kali aku mengetuk pintu depan, tapi tidak ada yang menjawab.
“SELAMAT DATANG Leeta,”
Tiba-tiba kakek dan ayahku ada di belakangku dengan membawa sekotak kue kesukaanku. Aku begitu bahagia melihat Kakek dan Ayah bisa bersama, dan aku langsung memeluk mereka. Karena aku sangat rindu pada Kakek dan Ayahku. Tapi, disisi lain aku juga sangat rindu dengan Jek.
Setelah aku merasa puas di rumah, aku bergegas pergi ke sekolah. Di sekolah aku mendapatkan sambutan dari teman-teman. Dan ini adalah hal yang paling menyenangkan selama aku bersekolah di Jakarta. Sutradara juga memberikan aku selamat atas keberhasilanku. Aku bahagia sudah membuat mereka semua senang dengan apa yang sudah aku dapatkan. Terutama Mery, dia sangat senang mendapatkan pesaing yang hebat sepertiku. Aku selalu berharap Mery bisa lebih bagus dari pada yang dulu setelah mendapati pesaing baru yang berpengalaman dari Amerika.
Tapi, di antara banyak teman-temanku yang berkumpul, aku tidak melihat Jekvin. Dan aku fikir Jek sedang ada di ruang musik, dan ternyata benar. Jek ada di sana, dengan keras aku lihat Jekvin berlatih gitar. Tapi seringkali, aku lihat dia masih kesakitan memegangi pergelangan tangan kirinya. Dan aku tidak kuat lagi melihat Jek yang terus menerus seperti itu.
“Jek, hentikan itu! Karena itu hanya bisa menyiksamu!” sepertinya Jek tidak terkejut dengan kedatanganku. Dan dia tak mau sedikitpun memandang ke arahku.
“Siapa dirimu? Beraninya pedulikan aku!” Jek meletakkan gitarnya dan pergi dari ruangan musik, tanpa menganggapku ada.
—
Aku berjalan menyusuri jalan yang dulu aku pernah lewati bersama Jelvin ketika kami masih berpacaran. Menghitung tetesan air ketika hujan di depan toko alat musik, bermain bola sabun di taman, bermain gitar di taman kota, dan berjalan-jalan di kebun bunga. Semua yang aku alami bersamanya aku ingat dan aku lakukan sendiri saat ini.
Aku terus berjalan menyusuri jalan kebun bunga, dengan fikiran yang benar-benar kosong. Tapi, di ujung jalan aku melihat Jekvin dan aku rasa Jek juga melakukan hal yang sama denganku. Kami saling berpandangan dari jauh, dan Jek mulai berjalan mendekatiku, begitupun aku. Jek terus berjalan mendekatiku dan memelukku.
“Aku merindukanmu Leeta!”
“Aku juga Jek!”
Dan semua kembali seperti semula. Jek kembali berpacaran denganku. Entah perjalanan dan mimpi apa yang akan terjadi selanjutnya.
The End
Cerpen Karangan: Fryska Ayu Winanthi
Facebook: Fryska Ayu
READ MORE - Perjalanan Cinta Untuk Sebuah Mimpi (Part 3)

Perjalanan Cinta Untuk Sebuah Mimpi (Part 2)

Senin, 20 Januari 2014
Posted By : Wayne Rachmat

Perjalanan Cinta Untuk Sebuah Mimpi (Part 2)

Aku berjalan melalui koridor sekolah dengan fikiran yang melayang-layang jauh tak karuan. Jekvin lah yang membuatku jadi begini, aku sangat dibingungkan dengan semua ini. Aku benar-benar berfikir keras dan berusaha menemukan cara agar aku dapat diterima dengan baik di hadapan teman-teman baruku. Aku juga bingung, kelebihan apa yang bisa aku tunjukkan pada mereka semua. Sedangkan aku hanya bisa menari dan bermain musik tradisional saja. Dan aku kira itu sudah menjadi hal yang biasa bagi mereka. Aku benar-benar pusing dengan semua ini.
“Apakah anda sedang memikirkan sesuatu yang berat?”
Tiba-tiba saja Dicky muncul dan membuyarkan segala fikiranku. Sekilas aku melihat wajah Dicky, hembbb, menurutku dia orang yang lumayan manis. Tapi sayang, dia bukan orang pertama yang ingin mendekatiku.
“Ya. Sesuatu yang sangat mengganggu fikiranku.” Aku selalu saja bersikap cuek kepada semua orang yang belum ku kenal, seperti Dicky.
“Mungkin kalau saya boleh tahu, saya akan membantu! Nama saya Dicky, dari kelas Musik!”
Dicky bersikap manis sekali padaku, tapi sayang sekali aku masih belum ingin mencari masalah yang lebih besar di sekolahan ini, karena kelihatannya Dicky adalah orang yang terkenal disini. Ketika aku melihat beberapa gulungan lirik lagu di tangannya, aku mencoba untuk meraihnya.
“Bukankah itu lirik lagu?” aku mencoba bertanya untuk mengalihkan pembicaraan Dicky.
“Ya benar. Ini adalah lagu yang akan kunyanyikan bersama teman bandku di pentas perayaan tahunan bulan depan!” Dicky menjawab pertanyaanku, yang seolah-olah dia tak ingin menutupi apapun dari ku. Namun aku juga mulai sedikit berfikir untuk memanfaatkan Dicky. Aku fikir dia orang yang hebat, dengan itu aku bisa dengan mudah membuktikan kelebihan yang aku punya melalui Dicky ke semua teman baruku. Aku mulai tersenyum, dan begitu senang bisa mendapatkan ide yang sebagus ini.
“Dic, bolehkah aku meminta bantuan mu! Walaupun kita belum kenal, tapi aku rasa kita cocok untuk berteman!” Kini aku benar-benar mengeluarkan sifat burukku ini. Tapi, aku begitu bingung, karena Dicky tetap saja setuju dan mau dengan apa yang aku inginkan padanya. Tapi setelah ku fikir-fikir Dicky adalah orang yang mempermudah rencanaku, jadi aku tidak perlu bingungkan itu lagi. Akhirnya aku bertukar nomor ponsel dengannya.
Teett.. Teett,
Setelah bel masuk berbunyi, kami pun berjalan bersama menuju kelas musik untuk berlatih persiapan perayaan bulan depan. Tapi aku sedikit merasa tidak nyaman, itu karena semua orang yang ada di kelas memandangku dengan sangat aneh, terutama Mery dan Jekvin. Tapi aku tetap pasang wajah cuek dan buru-buru duduk di tempatku. Aku merasa sangat tidak nyaman, karena Jekvin terus memandangku dengan aneh.
“Apa kamu merasa cemburu?” Aku terpaksa bertanya begitu agar mengalihkan pandangannya padaku.
“Dasar, aneh. Kamu kira aku akan mau lakuin apa yang ada di fikiranmu itu?” Dengan sombong Jekvin menanggapiku, aku begitu tidak nyaman dan penasaran bagaimana Jekvin bisa tahu semua rencana di fikiranku.
“Apa maksudmu?, Aku tidak mengerti.” Aku hanya bisa mengelak pertanyaan Jekvin yang memang benar adanya.
“Teruslah berpura-pura tidak tahu! Tapi aku hanya memperingatkan mu, karena aku akan lebih dulu mengenal semua teman di sini dibandingkan kamu! Dan ingatlah aku bukan orang yang mudah cemburu dan suka dengan cewek yang buruk rupa sepertimu!” Jekvin benar-benar membuatku marah dan jengkel, ingin sekali aku memukulnya sekeras-keras mungkin. Tapi, sayang sekali sutradara mengurungkan niatku itu. Karena tiba-tiba saja sutradara masuk kelas dan menyuruhku untuk ke depan. Aku sangat grogi, dan bingung dengan apa yang harus aku lakukan.
“Lee, saya percaya kamu adalah murid yang pandai. Dan sekarang tunjukkan kebisaanmu itu ke semua teman barumu!” Sutradara berkata dengan percaya padaku, namun aku begitu bingung dengan apa yang harus kulakukan. Apakah menari? Atau bermain musik tradisional? Huhh, semuanya benar-benar konyol. Aku tahu disini adalah sekolahan ternama di Jakarta, jadi aku fikir semua sudah pada modern. Tapi, aku hanya bisa menari dan bermain musik tradisional saja, menyanyi pun juga tak pernah.
Tanpa berfikir panjang lagi aku mengambil seruling dari tasku, dan aku mulai memainkanya sambil menari-nari kecil. Awalnya aku tidak yakin, tapi setelah melihat Dicky tersenyum dan percaya padaku, aku menjadi lebih berani. Dan aku sangat terkejut ketika permainanku berakhir, aku mendapatkan tepuk tangan yang meriah dari teman-teman, walaupun Mery tidak terlihat senang sama sekali, aku tetap bangga dengan ini. Dan aku mulai berjalan kembali ke tempatku.
“Tidak menarik, aku pun juga dengan mudah memainkan itu! Dasar gadis payah!” Aku sangat terkejut mendengar Mery berkata demikian, tapi setelah aku ingat kata-kata Jekvin, aku hanya bisa membiarkannya saat ini.
“Okey, kalian semua boleh belajar mengekspresikan suara kalian masing-masing, dan saya akan kembali 1 jam lagi!” Sutradara berkata dan secepatnya meninggalkan kelas.
—
Cantik, seksy, lembut, dan putih, itulah kak Dinda. Dia adalah guru tari di sekolahan ini. Tak heran banyak sekali orang yang menginginkannya. Banyak pula murid-murid perempuan yang iri dengannya.
“Apa yang perlu kita bahas hari ini?” Sutradara bertanya kepada Kak Dinda dengan nada tanpa basa-basi. Memang sejak awal hubungan Sutradara dengan Kak Dinda sedikit tidak baik. Jadi, tak heran apabila sutradara sering bersikap kasar pada Kak Dinda. Namun, entah kenapa Kak Dinda tak pernah sedikit pun membenci Sutradara.
“Aku hanya ingin berniat menambahkan murid baru kita ke dalam Perayaan bulan depan ini! Apa kamu setuju dengan pendapatku ini?”
“Tentu, besok akan ku adakan seleksi untuk mencari peran utama dalam perayaan bulan depan!” Setelah Sutradara menjawab, dia langsung pergi dan berjalan keluar untuk kembali ke kelas musik. Namun bel untuk pulang berbunyi, sehingga itu membatalkan niat Sutradara untuk kembali ke kelas.
Aku melihat Sutradara berjalan sendiri di jalan depan sekolah, dan aku mulai mencoba berlari mendekatinya. Dan sepertinya sutradara terkejut ketika melihatku yang tiba-tiba saja berada di sampingnya.
“Apakah Sutradara sedang melamun?” Aku bertanya dengan sopan padanya, tapi apa yang kudapat tak sebanding dengan yang ku lakukan. Sutradara malah mengacak-acak rambutku. Ini adalah hal yang paling wanita benci, apa sutradara ini mengira aku masih anak-anak apa? Dasar sutradara menyebalkan.
“Ya, aku melamunkan mu! Aku kagum kau sangat hebat memainkan alat musik tadi!” Sutradara membuatku benar-benar terkejut. Sejak awal aku senang dengan sikap sutradara, tapi terkadang sikapnya juga aneh dan membingungkan.
—
06.00 WIB
Kriiinnnggg…
Inilah kebiasaan burukku, bangun harus dengan menggunakan alarm. Terkadang karena malasnya aku, sampai-sampai Kakek yang membangunkanku. Setiap pagi Kakeklah yang memasak untuk sarapanku. Karena sudah lama Kakek hidup mandiri tanpa Nenek ku, itu karena Nenek sudah lama meninggal.
“Leetaaa… cepat sarapan!! kakek membuatkan roti bakar kesukaanmu!”
“iya Kek, Leeta hampir selesai”
Itulah kakek, yang selalu memanjakanku. Setelah siap semua, aku turun untuk sarapan, tapi karena waktu sudah menunjukkan pukul 06.45, terpaksa aku lakukan kegiatan buruk yang sering ku lakukan di Bali dulu.
Aku mulai duduk di meja makan, setelah beberapa kali berfikir, lalu dengan cepat aku mengambil satu roti bakar dan lari keluar untuk berangkat sekolah. Aku hanya bisa teburu-buru dengan memakan satu roti di tangan kananku dan membawa buku-buku di tangan kiri ku. Aku berlari sekilat mungkin agar tidak mendapatkan hukuman dari kakek pagi ini.
Brakkk…
Aku begitu terkejut, karena sisa rotiku yang masih belum habis kumakan jatuh bersama lembaran-lembaran kertas dan buku yang ku pegang, itu karena aku bertabrakan dengan seseorang setelah berhasil keluar dari gerbang depan rumah. Aku begitu marah melihat buku-buku ku yang berantakan. Tetapi, aku lebih terkejut lagi, karena orang yang menabrakku adalah Jekvin.
“Hey, aku ingin kau bereskan semua buku ku yang berantakan karena mu ini!”
“Aku? Karena ku? Jelas-jelas kamu yang menabrakku! Kenapa kau jadi menyalahkanku?”
“Tapi kenapa kamu berada di sini? Hemb… Jangan-jangan kamu mengikutiku ya?”
“Mengikutimu? Nggak berguna banget tau!”
“Terus kenapa kamu disini?” Jekvin tidak menjawab pertanyaan terakhirku, tapi dia hanya menunjuk ke arah rumah di ujung jalan depan rumah kakekku. Aku sedikit bingung, tapi setelah ku fikir aku beranggapan bahwa itu rumah Jekvin.
—
Selama berminggu-minggu masuk sekolah, aku tidak pernah mendapatkan setitik pun pengalaman yang mengesankan. Dan aku masih sangat terpukul, karena kejadian 2 hari yang lalu. Dicky yang baru saja aku kenal, orang yang baik, dan orang yang pernah berarti di hatiku hari-hari ini, meninggal. Dia pergi begitu saja tanpa aku tau kalau dia sakit, sakit yang membuatnya begitu cepat pergi meninggalkan kami semua. Aku menyesal karena belum pernah membuatnya benar-benar bahagia karena ku. Tapi, semua sudah berlalu. Dan mulai saat ini, aku akan terus berusaha keras untuk Dicky.
Pesta perayaan pun juga semakin dekat di mata. Tapi, aku masih saja bingung akan menampilkan apa. Sebenarnya ingin sekali aku bisa bernyanyi dan menari tari modern, tapi aku juga tau, itu akan sulit. Karena kakek selalu melarangku. Tapi, entah kenapa akhir-akhir ini, Jekvin selalu dekat dengan ku. Aku merasa dia adalah pengganti Dicky. Aku kira Jekvin adalah orang yang menyebalkan. Tapi, ternyata aku salah, dia adalah orang yang sangat menyenangkan. Bahkan dia bisa bermain gitar dan bernyanyi lebih baik dari pada Dicky. Pagi, Siang, bahkan malam saat latihan tambahan di sekolah aku selalu belajar bernyanyi dengannya. Begitu menyenangkan.
1 minggu sebelum pesta perayaan aku sempat melihat Mery di ruang tari. Aku lihat dia berlatih dengan keras di sana. “Sempurna”. hanya kata ini yang bisa ku ucapkan ketika aku melihat gerakan tari Mery yang enerjik. Rasanya ingin sekali aku menjadi Mery, tapi sayang aku bukan orang yang sepandai dia. Aku merasa itu hanyalah mimpi bagiku. Tapi, tiba-tiba saja Sutradara melihatku yang sedang mengintip Mery berlatih menari.
“Apa kamu ingin sepertinya?”
“Ya, tapi sayang, aku bukan orang yang sehebat itu!” aku sangat menyesal melihat diriku yang tak sebanding apa-apa dengan Mery. Tapi, sutradara berkata lain, dia bilang, aku adalah gadis yang kreatif. Dan bahkan dia menawariku untuk ikut audisi pemilihan pemeran utama besok. Dan sutradara mengajakku bertemu dengan Kak Dinda. Di sana Kak Dinda mengajari ku gerakan-gerakan dasar dari tari modern. Aku sangat tersiksa, karena harus melenturkan kaki, tangan dan badanku denggan gerakan split ke atas dan ke bawah. Tetesan-tetesan keringat pun membasahi badan ku dengan waktu singkat. Tapi, semua tidak sia-sia. Aku sudah mulai bisa menari dengan baik, walaupun tidak sempurna. Karena aku sudah merasa lelah, aku berniat untuk mengakhiri latihan. Tapi, ketika aku keluar dari ruangan, aku sangat terkejut melihat Jekvin ada di situ. Aku tidak ingin Jekvin melihatku, dan aku buru-buru bersembunyi.
Aku sangat terkejut ketika melihat Kak Dinda keluar, dan Jekvin memeluk kak Dinda. Entah kenapa air mata ini tak tertahankan lagi. Aku tak tau kenapa perasaan ini begitu sakit melihatnya. Dan aku melihat Jekvin memberikan leontin pada Kak Dinda. Aku begitu tak kuat ketika melihat Jekvin memasangkan leontin itu, dan aku berlari karena tak tahan lagi melihatnya. Aku bingung dengan hubungan Kak Dinda dengan Jekvin. Tapi, aku juga bingung dengan sikap sutradara pada ku.
—
07.00 WIB
“Saya ingin kamu pergi dari kehidupan saya. Karena saya tidak mau bermain-main dengan anak kecil sepertimu!” Kak Dinda begitu marah kepada Jekvin, dan dia juga mengembalikan liontin yang kemarin malam Jekvin berikan.
“Apa salah dengan diri saya ini? Apa karena saya kalah dewasa dengan Sutradara? Perlu anda tahu, saya benar-benar tulus mencintai anda!” sepertinya Jekvin memang sangat mencintai gadis yang jauh di atas umurnya itu. Tapi Kak Dinda tetap menolak, dan menyuruh Jek untuk meninggalkan ruangannya dan melupakan semua tentang Kak Din.
Aku melihat wajah Jek yang murung di depan ruang Kak Din. Dan aku mulai mendekati dan bertanya padanya. “Apa yang kamu lakukan di sini Jek?”
“Semua bukan menjadi urusanmu!” Jek, pergi dan meninggalkanku tanpa memandang ataupun menolehku. Aku begitu kecewa dengan sikap Jek, dan aku yakin ini terjadi karena Kak Din. Tak lama dari itu, aku melihat Sutradara masuk ruangan Kak Din. Aku juga binggung kenapa tiba-tiba aku berniat mendengarkan pembicaraan mereka. Dan aku begitu terkejut ketika mendengar ternyata Kak Din suka dan cinta pada sutradara, tapi sutradara membuat kak Din sedikit kecewa, dan itu karena aku. Kak Din cemburu padaku, karena memang sutradara sangat dekat denganku. Aku bingung, Jek mencintai Kak Din, Kak Din mencintai Sutradara, dan Sutradara dekat dengan ku, dan aku mulai sayang dengan Jek.
Kenyataan itu terus-menerus membayangiku. Tapi, aku tidak mau semua itu menghancurkan mimpi ku. Aku memutuskan untuk mendekati Jek dan menghiburnya. Tapi itu sulit, setiap kali aku mencoba berbagi dengan Jek tapi Jek selalu mencoba menolak dan menjauhiku. Tapi, inilah aku. Seseorang yang tak pernah menyerah. Setiap pagi aku selalu membelikannya capucino kesukaannya, berlatih bersamanya dan bahkan bernyanyi untuknya.
—
Audisi pemeran utama pun tiba. Dan aku benar-benar bingung akan bernyanyi apa. Tapi setelah aku fikir, bernyanyi apapun asalkan dengan hati akan menghasilkan kepuasan. Dan aku sudah menyembunyikan ini semua dari Kakekku. Karena, aku ingin sekali tampil di atas panggung. Meskipun begitu, aku tetap menghormati kakekku dengan tetap bermain seruling dan menari tari tradisional seperti yang Kakek inginkan.
Di hari audisi, kakek mengajakku untuk lomba bermain seruling, tapi aku sangat binggung harus memilih apa? Sedangkan Kakek terus menerus membuntutiku. Aku tak bisa kabur darinya. Waktu audisi pun semakin dekat tapi acara perlombaan belum di mulai, aku mulai gelisah. Tapi, aku sangat terkejut ketika melihat Jek memanggilku dari luar gedung perlombaan. Dan aku langsung berlari padanya.
“Apa yang kamu lakukan di sini Jek?” dengan senangnya aku melihat Jek yang mulai peduli padaku.
“Aku menjemputmu untuk ikut audisi itu! Karena aku yakin kamu bisa!” Jek meyakinkanku dengan hati yang tulus, tapi aku juga tidak mau mengecewakan Kakekku.
“Ayo cepat naik! Sebelum kamu terlambat dan di diskualifikasi!” Karena aku yang terlalu semangat aku berlari ke arah Jek. Tapi, aku malah terjatuh dan Jek menolongku. Hingga kami terjatuh berdua dan tangan kiri Jek terkilir. Tapi, aku tak tahu itu terjadi pada Jek, karena dia tidak menunjukkan sakit sedikit pun pada ku. Dan kami pun bersepeda menuju gedung audisi di sekolah. Di sana sutradara sudah menungguku lama, dan aku di suruh untuk langsung tampil dan bernyanyi.
Aku bernyanyi dengan memikirkan semua hal yang sudah terjadi padaku. Dicky, Jekvin, Ayah, dan bahkan kakekku. Dan tanpa aku sadari aku menangis, setelah lagu berakhir aku mendapatkan tepukan yang sangat meriah. Dan teman-teman mulai berlari ke depan dan memelukku. Aku senang bisa bernyanyi sehebat ini. Dan aku juga senang ketika melihat Jek tersenyum padaku.
Cerpen Karangan: Fryska Ayu Winanthi
Facebook: Fryska Ayu
READ MORE - Perjalanan Cinta Untuk Sebuah Mimpi (Part 2)

Perjalanan Cinta Untuk Sebuah Mimpi (Part 1)

Senin, 20 Januari 2014
Posted By : Wayne Rachmat

Perjalanan Cinta Untuk Sebuah Mimpi (Part 1)

Pesawat Garuda Indonesia akan segera lepas landas, dengan tujuan bandara Ngurah Rai Bali menuju bandara Soekarno Hatta Jakarta.
Hwaaaa…
haruskah aku berlari secepat ini agar tidak tertinggal pesawat..?
seberapa banyak koper yang harus ku angkat untuk membawa semua barang-barangku ini..?
Huuuhhh… Putri Leeta yang manis ini bisa saja masuk RS karena setengah dari berat badannya berkurang. Hehehehehe…
—
Teeet… Teeet… Teeet,
“Ya Pa, apa yang membuat Papa menyempatkan diri untuk menelfonku?”
“Jekvin, Papa hanya memastikan, kamu harus benar-benar berangkat ke Jakarta!”
“Apakah Papa sedikit khawatir tentang ini?”
“Ya, itu tentu Vin!”
“Aku pastikan datang tepat 4 jam lagi!”
Klik. Tuuut… Tuuut… Tuuut…
Huuuhh… benar-benar anak yang tidak sopan. Bagaimana bisa dia matikan telfon dari ku?
tanpa menghargai sedikitpun aku sebagai Papanya.
—
104, 105, 106, 107, 108,
“Heii.. Romeo, berapa banyak kamu melangkah hari ini?”
“Haaaaa… Mery..? Kau benar-benar mengejutkanku! Ahh… bisa saja kau tanyakan itu padaku..!?”
“Kau tau seberapa anehnya dirimu?”
“Tidak!!” (Romeo menjawab dengan polosnya)
“You stupid..!! Haruskah menghitung langkah menjadi tradisi dalam hidupmu?”
“Semua ini Nenekku yang mengajarkannya! Karena…”
“Stop..!! Jangan lanjutkan perkataanmu yang benar-benar tidak ku mengerti itu..! Huuhhh, Membosankan.”
Romeo hanya bersedih mendengar ucapan Mery padanya.
“Hey, hey, hey, Bisakah kalian tidak ribut..? Hari ini aku punya gosip terbaru! Apakah kalian tidak ingin mendengarnya?”
“Benar–benar Ayu si Ratu Gosip..! Apa sih yang gak Ayu tau? semut pacaran aja dia juga tau.”
“Mery!! Jangan beri aku julukan seperti itu!! Sangat mengganggu di telingaku..!!”
Kemudian Ayu menceritakan apa gosipnya kepada semua teman-temannya. Mery yang sombong dan sinis, Sinta yang bijaksana, Nety yang penurut, Romeo yang aneh, Dicky si vokalis, Ciko si gitaris, dan Tino yang rakus si dramer hanya bisa diam dan penasaran mendengarkan gosip dari Ayu. Kemudian Ayu berkata bahwa besok mereka akan kedatangan 2 murid baru. Dan Ayu ingin merencanakan sesuatu untuk menyambut murid baru itu. Namun Sinta tidak setuju, dan Nety si penurut hanya ikut-ikut tidak setuju. Ayu sungguh tidak setuju dengan pendapat Sinta dan Nety, menurut Ayu Sinta dan Nety tidak berbeda jauh, mereka sama-sama pasif. Bagi Ayu penyambutan murid baru itu adalah hal yang sangat penting, bisa di bilang sudah menjadi tradisi dalam kelas Mereka.
Teeett…
Setelah bel berbunyi, Ciko berpendapat untuk melanjutkan permasalahan itu nanti saja setelah jam latihan, agar tidak di marahi sutradara. Tino yang rakus si dramer hanya ikut menanggapi setuju pendapat Ciko, itu karena sebenarnya Tino sudah merasa lapar dan ingin cepat-cepat lari ke Kantin.
—
Aku yang berada di pesawat mulai bosan menanti. Aku fikir pesawat ini terlalu lama berjalan, karena aku ingin segera bertemu kakek dan mengenal teman-teman di sekolah baruku nanti.
Pesawat akan segera lepas landas, kepada seluruh penumpang disarankan untuk mengecek pengaman masing-masing. Terima kasih.
Huuuhhhh… ini benar-benar melegakan hatiku.
1 Message Received
Show
From. Kakek
Lee, apa kamu sudah sampai bandara?
Hembbb, Kakekku ini benar-benar seperti pacarku saja.
Kakek sangat perhatian denganku, aku sangat bahagia mempunyai Kakek sepertinya.
Replay
To. Kakek
Belum Kek!
tapi sebentar lagi Leeta sampai!
Nanti Leeta akan menelfon Kakek!
Sending Message
Delivered Kakek
—
“Okey anak-anak kita sudahi latihan sore ini! Dan persiapkan baik-baik untuk latihan selanjutnya.”
“Siap Sutradara”
dengan semangat murid-murid menjawab terutama Tino, karena perut Tino sudah ingin melarikan diri sejak sebelum latihasn dimulai.
Namun Ayu membatalkan niat Tino, karena sebelum mereka diperbolehkan pulang Ayu mengajukan sebuah pertanyaan. Sutradara mengira Ayu bertanya karena ada permasalahan dalam Ayu menari, ternyata bukan. Ayu hanya bertanya untuk memastikan mengenai murid baru yang akan datang. Sutradara hanya menjawab apa adanya. Karena Ayu memang benar bahwa mereka semua akan mendapatkan 2 teman baru. Dan sutradara mengijinkan mereka untuk berkenalan tepat besok pagi. Wajah Tino sedikit murung, dan terlihat dendam pada Ayu. Karena Ayu sudah memperlambat jam makan Tino.
—
19.00 WIB
“Kenapa waktu berjalan lambat sekali disini?” (Gumam Jekvin seraya melihat jam tangannya).
1 Massage Received
From. Papa
Show
Berapa lama lagi aku harus menunggumu di bandara ini Vin?
Setelah Jekvin membaca pesan dari Papanya ia sedikit berfikir, apakah benar Papa Jekvin mengharapkan kedatangannya, Jekvin hanya bingung dan bingung memikirkan hal itu. Dalam hati Jekvin menginginkan untuk melarikan diri dari Papanya. Tapi karena ia mengingat pesan ibunya, ia tak kan tega untuk membenci Papanya terlalu lama. Akhirnya ia meraih ponselnya dan membalas pesan Papanya.
Replay
To. Papa
Tunggu saja di pintu keluar bandara! Aku akan segera datang menemuimu!
Sending Massage
Delivered Papa
—
Sampainya aku keluar dari pesawat, aku segera mengambil ponsel di sakuku untuk menelfon Kakek.
Called Kakek
Tutt, tutt,
“Iya Leeta, Kakek akan segera berangkat, dan datang menjemputmu!”
Klik
End Called
Tutt, tutt..
Kakekku benar-benar tampil lucu terhadap diri ku. Kakek benar-benar mengerti apa maksud ku, sebelum aku mengucapkan apa yang ingin aku sampaikan padanya.
Sudah 10 menit lebih aku menunggu kakek, tapi kakek juga belum datang. Tapi, aku merasa sedikit aneh, dan merasa seperti ada yang tertinggal. Setelah aku ingat-ingat dan melihat ke kanan dan ke kiri aku menyadarinya.
Astaga… Koper ku, Dimana..?
Aku mulai panik dan berlari kesana kemari, setelah aku berhenti dan berfikir,
Hwaaa… Aku lupa, itu pasti tertinggal di Pesawat..
Setelah aku ingat, tanpa berfikir banyak aku berlari secepat mukin menuju pesawat.
—
Jekvin yang masih ragu menemui Papanya hanya bisa duduk berdiam diri di pesawat. Setelah ia berfikir dan menimbang-nimbang pesan ibunya, kemudian ia bergegas untuk mengambil Kopernya. Tapi ketika ia berdiri dan melangkah untuk meraih kopernya, ia sedikit bingung, karena ada 2 koper yang berada di situ. Dan Jekvin mulai memandang ke kanan dan ke kirinya untuk memastikan apakah ada orang lain selain dirinya yang masih berada dalam pesawat. Ternyata ia tidak menemukan siapapun di dalam situ. Dan ia mulai mendekati koper yang bukan miliknya, perlahan ia mulai membuka koper itu.
“Tiiiddaaakkk…”
“Jangan buka koper itu..! Itu milik ku!”
Aku berteriak ketika melihat ia mulai membuka koper milikku. Tapi ia malah curiga padaku. Ia kira aku mengaku koper itu milikku, dan ia juga mengira bahwa ini adalah modus kejahatan. Tanpa fikir panjang dan berbelit-belit menjelaskan bagaimana kejadiannya, aku langsung meraih koperku. Tapi…
Ckleeekk…
Haaa, Aku melihat ke arah koperku dan ternyata roda koperku patah. Aku benar-benar bingung, namun tanpa berfikir aku tetap membawa koperku. Tapi, dengan masa bodoh Jekvin meraih koperku dan membantunya membawakan hingga turun dari pesawat.
Sampainya di luar pesawat, aku buru-buru mengambil koperku dari tangan Jekvin. Meskipun dia sudah menolongku, tetapi aku tidak benar-benar memperhatikan wajahnya, setelah aku ambil koperku, aku langsung berlari tanpa mengucapkan terimakasih padanya. Ini karena seluruh perhatianku tertuju pada Kakekku. Dan tanpa aku sadari Jekvin mengambil fotoku dari belakang.
Kakek… Aku berlari sekilat mungkin, dengan memandangi Kakekku yang gendut. Ketika aku sampai di depan kakek, aku memastikan dulu benarkah ini kakek ku atau bukan, setelah aku benar-benar yakin itu kakek, aku langsung memeluknya.
Kakekku adalah orang yang sangat peduli dan menyayangiku. Kakek selalu menuntutku untuk maju dan berkarya dalam seni tari dan alat musik tradisional. Itu karena kakekku tidak ingin cucunya ini terpengaruh oleh budaya Barat. Meskipun terkadang ia sering memarahiku dan menututku untuk berlatih menari dan musik tradisional setiap hari, tetapi aku tahu maksud benar–benar baik untuk hidupku. Sampai kapanpun hanya kakek yang menjadi orang terbaik dan terhebat dalam hari–hariku. Sejak perceraian itu, aku benar–benar membenci diriku sendiri. Dan aku tak pernah bahagia hidup bersama ayahku di Bali. Karenanya Ayah mengirimku ke Jakarta untuk tinggal bersama kakek walaupun Ayah sudah bersikap seperti ini padaku, Aku akan tetap dan selalu menyayanginya. Aku akan selalu berharap agar hubungan Ayah dan Kakek bisa membaik. Karena aku ingin bisa hidup bersama kakek dan Ayahku.
Tak ku sadari kakek melihatku meneteskan air mata. Aku menangis karena aku bahagia, betapa bahagianya hidupku sampai saat ini.
“Leeta.. Leet.. Apa kamu menangis?” Kakekku benar–benar bingung melihat aku melamun dan menangis. Bahkan ketika Kakek bertanya aku tidak mendengarnya.
—
Romeo berjalan bersama teman-teman bandnya di koridor sekolah. Tepat saat itu Mery bersama teman-teman tarinya mengikuti Romeo dan teman-temannya dari belakang. Ayu yang sangat pandai menggosip itu terus-terusan menanyakan rencana untuk menyambut murid baru kepada teman-temannya. Sehingga membuat Mery bosan untuk mendengarnya.
Berbeda dengan Sinta yang sangat bijaksana itu, ia berfikir bahwa memberikan ospek tersendiri pada murid baru akan menyimpan kenangan baik. Karena Sinta berfikir murid yang dipindahkan itu mempunyai permasalahan, makanya mereka dikeluarkan dan dipindahkan ke sekolah lain. Nita yang penurut hanya bisa membenarkan pendapat Sinta. Namun, Mery sangat geram dengan kata-kata teman-temannya yang membosankan. Akhirnya Mery berjalan pergi mendahului teman-temannya itu.
—
Jekvin berjalan menuju pintu keluar bandara, disana ia melihat seorang Laki-laki tinggi, berwajah tampan dn berkulit putih, yang tidak jauh beda dengan wajahnya sendiri. Tepatnya itu adalah Papa Jekvin. Tetapi, tidak ada rasa bahagia sedikitpun di wajah Jekvin ketika ia bertemu Papanya, bahkan ia juga sangat jarang bicara dengan Papanya. Ini karena Papanya pernah menelantarkan Jekvin dengan ibunya. Hingga akhirnya ibu Jekvin meninggal karena banyak beban hidup dan sakit-sakitan. Jekvin selalu saja memikirkan dan mengingat hal ini, sehingga ia benar-benar menyimpan dendam pada Papanya. Ia berjalan menghampiri Papanya dengan mengingat-ingat semua kejadian dan kenangan buruk yang Ia alami bersama Ibunya. Tak sadar mata Jekvin berkaca-kaca, karena perasaannya tertekan. Ia ingin membenci Papanya tetapi, ketika ibunya masih hidup, ibu Jekvin berpesan agar selalu menyayangi Papanya seperti Ia menyayangi Ibunya. Jekvin menangis dan berlari memeluk Papanya.
“Vin, kenapa kamu seperti ini? Apa kamu tidak senang berada disini?”
Papa Jekvin bingung melihat tingkah Jekvin yang tidak seperti biasanya yang ia lihat. Karena Papa Jekvin tak pernah sedikitpun mendapatkan perhatian dari Jekvin.
“Vin selalu bahagia Pa! Maafkan Jekvin? Karena Jekvin terlalu egois kepada Papa”
“Tentu Vin. Karena Vin akan selalu benar di mata Papamu ini!”
Hati Jekvin merasa sedikit lega, ketika ia mulai bisa menghapus rasa dendam kepada Papanya. Setelah perasaan Jekvin benar-benar lega, mereka berjalan bersama menuju mobil Papanya dan bergegas pergi.
—
07.00 WIB
Teett…
Seluruh Murid berjalan menuju kelas jurusan masing-masing, namun hanya kelas Seni yang paling heboh hari ini. Karena mereka akan mendapati teman baru di kelasnya.
“Selamat pagi semua?”
Sutradara di kelas Seni mereka sangat akrap dan bersahabat. Datang ke kelas saja tidak pernah sekalipun terlambat. Itu karena sifatnya yang disiplin.
“Pagi Sutradara..”
Seluruh murid menjawabnya dengan kompak dan penuh semangat bersama.
Pagi ini sutradara akan mengenalkan 2 murid baru kepada semua muridnya. Dan Mery adalah orang pertama yang paling tidak sabar untuk segera tahu dan kenal murid baru itu. Namun sutradara juga belum bisa memberi tahunya, karena kedua murid tersebut belum juga datang.
Tok.. tok.. tok..
Setelah terdengarnya ketukan pintu kelas, sutradara mengira itu adalah murid baru, dan ia mempersilahkannya untuk masuk kelas. Ternyata itu Jekvin, ia datang lebih awal dari pada aku. Dan Jekvin memperkenalkan dirinya dengan singkat. Mery yang tadinya sangat penasaran itu akirnya terobati. Mery benar-benar merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun ia juga berfikir pasti ia akan mendapatkan banyak pesaing untuk bisa dekat dengan Jekvin.
Sebelum Jekvin selesai memperkenalkan diri, Aku datang. Dan Sutradara memperlakukanku sama ketika Jekvin datang. Aku memperkenalkan diri dan begitu bodohnya aku menceritakan kenapa hari pertama masuk kelas aku datang terlambat. Setelah kami berkenalan kami di izinkan untuk duduk. Aku hanya melihat 2 bangku kosong di pojok kanan kelas, dan mungkin Jekvin juga melihat ke arah bangku itu. Dan kami pun berjalan bersama menuju bangku itu, dan mulai melaksanakan pelajaran pertama di sekolahan baru ku.
Teett… teett
Akhirnya jam istirahat berbunyi, Aku ingin sekali berkenalan dengan semua teman baruku, tapi sepertinya banyak dari mereka yang tidak suka karena kedatanganku. Aku melihat ke sampingku, dan aku mencoba berkenalan dengan Jekvin. Tapi, dia terlihat sangat sombong, aku bingung harus berteman dengan siapa saat ini.
“hey.. sebaik dan sependiam inikah murid baru di kelas kita?” Mery mulai mendekatiku dan berkata sinis kepadaku. Dan aku merasa sedikit tidak nyaman dengan perlakuannya kepada ku. Aku mencoba untuk membela diri, tetapi Mery mulai semakin marah dan menarik lengan bajuku. Aku sedikit bingung dengan perlakuan Mery. Sepertinya Ia cemburu karena aku duduk sebangku dengan Jekvin. Aku mulai merasa direndahkan, dan aku ingin sekali membantah perlakuan Mery padaku. Tapi Jekvin dengan tiba-tiba menarik tanganku dan membawaku ke luar kelas.
“Hey, lepaskan tanganku aku hanya ingin memberinya penjelasan, agar ia tak salah paham dengan ku!”
Aku hanya bisa menyesal karena sikap Jekvin yang ikut-ikut campur dalam urusanku.
“Jangan buat masalah! Kau ini masih murid baru..!!”
Jekvin benar-benar membuatku tambah jengkel saja. Dia melakukan semuanya dengan wajah tanpa bersalah sedikit pun. Ingin sekali aku mengacak-acak rambut Jekvin yang sombong itu. Tapi, ternyata niatku itu di dahului Jekvin. Dengan tiba-tiba dia menjitak keningku, aku bingung dan marah sekali. Dan aku mulai menggumpalkan tanganku di depanya.
“Hey, tunjukkan dulu kelebihan mu pada mereka yang sudah lebih dulu berada di sekolahan ini! Baru bersikap seperti ini tak apa! Dasar cewek bodoh! Pikiramu terlalu pendek!” Jekvin berkata dengan santai di hadapanku, namun kata-kata Jekvin benar-benar membuatku merasa sedikit tersadarkan. Tapi tetap saja dia sudah membuatku jenggkel hari ini.
Cerpen Karangan: Fryska Ayu Winanthi
Facebook: Fryska Ayu
READ MORE - Perjalanan Cinta Untuk Sebuah Mimpi (Part 1)

 
 
 
free counters

Follower

Gunadarma